Genangan Berkepanjangan Ancam Pertanaman Padi di Deli Serdang
Deli Serdang – Pertanaman padi di Desa Pematang Ulam, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, menghadapi ancaman genangan dan banjir yang berpotensi menyebabkan tanaman rebah dan mengalami kerusakan apabila terendam dalam waktu lama. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam kunjungan lapang Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan (BRMP Tanaman Pangan) selaku Penanggung Jawab Satuan Tugas (Satgas) Swasembada Pangan Provinsi Sumatera Utara, Kamis (10/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Kepala BRMP Tanaman Pangan melihat langsung kondisi pertanaman padi serta berdialog dengan petani dan petugas lapangan untuk mengidentifikasi dampak genangan terhadap tanaman dan kendala yang dihadapi di lapangan. Beberapa varietas yang ditanam antara lain Inpari 32, Ciherang, dan Cibatu. Dari informasi petani, varietas Cibatu dinilai memiliki ketahanan relatif lebih baik terhadap kondisi tanaman rebah.
Genangan menjadi persoalan utama karena sebagian lahan pertanian berada di kawasan hilir dengan kondisi pembuangan air yang terbatas. Sedimentasi pada saluran menyebabkan aliran air tidak dapat segera terbuang sehingga genangan bertahan lebih lama di lahan, termasuk ketika kondisi air laut telah surut.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pertanaman padi. Tanaman yang terlalu lama terendam berisiko mengalami rebah, pertumbuhan terganggu, hingga kerusakan tanaman dan potensi penurunan hasil produksi. Selain itu, genangan juga dapat mengganggu waktu tanam dan menyulitkan petani dalam menentukan pola tanam yang sesuai dengan kondisi lahan.
Kondisi lahan yang dalam dan berlumpur turut memperbesar kendala di lapangan. Beberapa alat dan mesin pertanian (alsintan) tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena kondisi lahan berisiko menyebabkan alat sulit bergerak bahkan tenggelam. Oleh karena itu, pemilihan lokasi dan penyesuaian penggunaan alsintan perlu mempertimbangkan kondisi lahan serta tingkat risiko genangan.
Kepala BRMP Tanaman Pangan juga menekankan pentingnya pengaturan pola dan waktu tanam berdasarkan karakteristik lahan serta potensi genangan. Pada wilayah dengan perbedaan ketinggian lahan, penanaman dapat dilakukan secara bertahap dengan mendahulukan lahan yang lebih tinggi sebelum lahan yang lebih rendah. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko pertanaman padi terendam pada periode yang sama.
Selain genangan akibat banjir, kawasan pertanian di sekitar Tanjung Rejo juga menghadapi persoalan air pasang dan air payau. Kondisi ini menjadi tantangan tambahan dalam pengelolaan air dan perlu diperhitungkan dalam upaya menjaga keberlanjutan pertanaman padi di kawasan pesisir.
Kunjungan lapang tersebut menjadi bagian dari upaya pengawalan dan penanganan permasalahan pertanian secara langsung di tingkat lapangan. Hasil identifikasi kondisi pertanaman dan tata air diharapkan menjadi bahan tindak lanjut untuk mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat genangan, memperbaiki pengelolaan air, serta mendukung keberlanjutan produksi padi di Deli Serdang.
Melalui koordinasi antara pemerintah, petugas lapangan, penyuluh, dan petani, penanganan dampak banjir terhadap pertanaman padi diharapkan dapat dilakukan secara lebih tepat sehingga produktivitas lahan tetap terjaga dalam mendukung swasembada pangan Provinsi Sumatera Utara dan nasional.