PM-AAS DORONG PRODUKTIVITAS PADI DAN KESEJAHTERAAN PETANI
TEBING TINGGI – Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) terus memperluas implementasi kegiatan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) sebagai upaya meningkatkan produktivitas padi dan kesejahteraan petani di berbagai daerah.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan, Dr. Ir. Haris Syahbuddin, DEA, saat memaparkan strategi dan langkah operasional implementasi PM-AAS kepada para penyuluh pertanian se-Sumatera Utara pada Rapat Koordinasi Kegiatan PM-AAS Wilayah 3 di Gedung Sawiyah, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Kamis (23/7).
Dalam paparannya, Haris menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan pendekatan budidaya padi modern yang mengintegrasikan mekanisasi, teknologi digital, dan pertanian presisi. Melalui pendekatan ini, pemanfaatan sumber daya menjadi lebih efisien, biaya produksi dapat ditekan, serta produktivitas dan kualitas hasil panen dapat ditingkatkan.
"Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian terus mendorong penerapan metode tanam padi PM-AAS melalui pelaksanaan demonstration plot (demplot) di berbagai wilayah. Demplot ini bertujuan memperkenalkan teknologi budidaya padi modern kepada petani agar dapat diterapkan secara lebih luas," ujar Haris.
Menurut Haris, keberhasilan implementasi PM-AAS didukung oleh strategi yang terintegrasi, mulai dari pemetaan lahan berdasarkan kondisi dan ketersediaan air, penguatan sinergi dengan para pemangku kepentingan, hingga penerapan paket teknologi yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah.
Selain itu, pendampingan intensif kepada petani, kesiapan sarana produksi sebelum tanam, pemanfaatan demplot sebagai sarana pembelajaran, serta penerapan sistem monitoring digital menjadi faktor penting dalam memastikan keberhasilan program di lapangan. Berbagai langkah tersebut juga menjadi dasar evaluasi dan penyempurnaan pelaksanaan PM-AAS secara berkelanjutan.
Haris juga menguraikan tahapan budidaya padi PM-AAS yang perlu menjadi perhatian para penyuluh dalam mendampingi petani. Tahapan tersebut meliputi persiapan lahan yang optimal, penggunaan varietas unggul sesuai kondisi lahan, penerapan metode tanam benih langsung (Tabela), pemupukan berimbang, pengelolaan air dengan sistem Alternate Wetting and Drying (AWD) atau irigasi berselang, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), hingga pelaksanaan panen pada saat tanaman mencapai kemasakan fisiologis.
Lebih lanjut, ia menekankan sejumlah aspek teknis yang perlu mendapat perhatian di lapangan, antara lain kondisi lahan yang macak-macak saat tanam, aplikasi herbisida pra-tumbuh, perlakuan benih (seed treatment), pengawasan intensif terhadap serangan OPT, serta penggunaan pupuk silika untuk memperkuat batang tanaman dan mengurangi risiko rebah.
"Penerapan teknologi yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan PM-AAS. Dengan demikian, produktivitas padi dapat meningkat dan pertanian Indonesia semakin modern, efisien, serta berdaya saing," pungkas Haris. (UJE/KNT/NAS)