Panen Padi PM-AAS di Soppeng Capai 10,2 Ton per Hektare
Soppeng, 19 Agustus 2026 — Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan (BRMP Tanaman Pangan) melaksanakan panen bersama kegiatan Akselerasi Penerapan Modernisasi Pertanian dalam rangka Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi Usahatani Padi di Desa Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Rabu (19/8).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Competitive Grant Project ICARE Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian yang telah dilaksanakan selama dua musim tanam bersama petani kooperator Kelompok Tani Karuna. Pada musim tanam sebelumnya (MH 2025/2026), penggunaan varietas Inpago 8 dan Inpago 12 menghasilkan produktivitas mencapai 10,4 ton per hektare. Sementara pada musim ini (MK I 2026), pertanaman menggunakan varietas Inpago 12 dan Inpari 50 mencapai produktivitas yang masih bertahan di 10,2 ton per hektare. Capaian ini dinilai penting karena pertanaman pada MK I menghadapi tantangan yang lebih berat, terutama cekaman kekeringan serta intensitas serangan hama dan penyakit yang lebih tinggi dibandingkan musim sebelumnya.
Kepala BRMP Tanaman Pangan menegaskan bahwa panen tersebut bukan sekadar menunjukkan capaian produksi, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk membangun sistem pertanian yang lebih modern, produktif, efisien, dan tangguh.
“Panen yang kita lakukan hari ini bukan sekadar memanen padi. Kita sedang memanen pembelajaran untuk membangun pertanian Indonesia yang lebih modern,” ungkapnya dalam sambutan pada kegiatan panen bersama. Menurutnya, produktivitas 10,2 ton per hektare menunjukkan bahwa sistem produksi mampu mempertahankan hasil tinggi di tengah kondisi lingkungan yang tidak ideal.
Kegiatan di Soppeng yang telah berjalan selama 2 musim tanam menjadi salah satu embrio pengembangan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang tengah didorong Kementerian Pertanian. Kegiatan ini tidak hanya diarahkan untuk membuktikan bahwa suatu teknologi dapat diterapkan, tetapi juga untuk mengidentifikasi kombinasi teknologi yang tepat, memahami kondisi penerapannya, merakitnya menjadi suatu sistem produksi, serta menguji peluang replikasinya pada skala yang lebih luas di tingkat petani. Hal tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam pengembangan PM-AAS, yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga membangun ketangguhan sistem produksi.
PM-AAS dikembangkan sebagai sistem pertanian maju yang terintegrasi, mencakup penggunaan varietas unggul dan benih bermutu, pengaturan populasi tanaman, pengelolaan hara dan air secara efisien, pengendalian organisme pengganggu tanaman, mekanisasi dari hulu hingga hilir, pemanfaatan data dan teknologi digital, serta sistem panen dan pascapanen untuk menekan kehilangan hasil.
Soppeng sebagai living laboratory pertanian modern merupakan lokus dimana teknologi diuji, pembelajaran dikumpulkan, dan kinerja diukur sebagai dasar penyusunan rekomendasi untuk penyempurnaan model pertanian modern. Evaluasi ke depan perlu terus dilakukan, tidak hanya mencakup produktivitas, tetapi juga biaya produksi, kebutuhan tenaga kerja, efisiensi penggunaan air dan sarana produksi, kehilangan hasil, serta tambahan pendapatan yang diterima petani. Siklus yang dibangun mencakup merakit teknologi, menguji di lapangan, mengukur hasil, memperbaiki kekurangan, menerapkan, dan mereplikasi pada skala yang lebih luas.
Bupati Soppeng secara khusus menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih atas ditetapkannya Kabupaten Soppeng sebagai salah satu lokasi penerapan PM-AAS. Program Kementan ini telah memberikan harapan besar bagi petani sekaligus menjadi langkah nyata dan strategis dalam mendorong transformasi sistem budi daya padi di Bumi Lattemmala.
“Kami berharap, dengan model budi daya padi modern ini mampu menghasilkan panen yang semakin meningkat, biaya lebih efisien, dan kesejahteraan petani akan meningkat. Kita ingin suatu hari nanti orang berkata, petani Soppeng adalah petani yang siap menghadapi masa depan,” ujarnya.
Dari Desa Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, kegiatan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa modernisasi pertanian dapat diterapkan di tingkat lapangan untuk mendorong produktivitas tinggi sekaligus meningkatkan efisiensi dan ketangguhan sistem produksi. Pada akhirnya, penerapan PM-AAS diharapkan turut memperkuat produksi pangan nasional, mendukung kemandirian dan swasembada pangan, serta meningkatkan kesejahteraan petani.