ICARE From The Field : Penguatan Kapasitas Penerapan Pertanian Modern Dalam Budidaya Padi di Soppeng
Soppeng – BRMP Tanaman Pangan terus memperkuat kapasitas petani dalam mengadopsi teknologi pertanian modern melalui penyelenggaraan Pelatihan Teknis Kegiatan Akselerasi Penerapan Modernisasi Pertanian dalam Rangka Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi Usahatani Padi yang dilaksanakan pada 28–30 Juli 2026 di Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.
Kegiatan yang merupakan bagian dari pelaksanaan Competitive Grants (CG) ICARE BRMP Tanaman Pangan Tahun 2026 ini diikuti oleh 38 orang petani kooperator Kelompok Tani Karuna pada pelaksanaan pelatihan teknis tanggal 28–29 Juli 2026. Selain pelatihan, pada hari terakhir kegiatan BRMP Tanaman Pangan juga melaksanakan Survei SWOT terhadap 22 orang petani kooperator sebagai bagian dari pengumpulan data untuk mengevaluasi perkembangan implementasi teknologi modern oleh petani binaan.
Kegiatan diawali dengan laporan Koordinator Kegiatan, Dr. Nuning Argo Subekti, S.P., M.Sc., yang menyampaikan bahwa Kabupaten Soppeng memiliki sejarah penting dalam pengembangan modernisasi pertanian. Menurutnya, pendampingan yang dilakukan BRMP Tanaman Pangan melalui kegiatan CG ICARE sejak tahun 2025 telah menghasilkan berbagai pembelajaran dalam penerapan teknologi budidaya modern di tingkat petani. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan teknis menjadi salah satu kunci agar inovasi yang telah dikembangkan dapat diterapkan secara optimal, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produktivitas usahatani padi.
Selama dua hari pelatihan, peserta memperoleh berbagai materi yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penerapan teknologi modern di lapangan. Materi pertama mengenai Penggunaan Drone Pertanian disampaikan oleh Arfaitha, S.Sos. Peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan drone pertanian DJI Agras T100 untuk penyemprotan pestisida, pupuk cair, penyebaran pupuk granul, pemetaan lahan, hingga pemantauan kondisi tanaman secara lebih cepat, tepat, dan efisien. Selain memahami fungsi dan komponen utama drone, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai prosedur persiapan sebelum penerbangan, keselamatan kerja, pengoperasian, hingga perawatan drone sehingga teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung kegiatan budidaya padi.
Pada sesi berikutnya, Nurtang Evendi, S.P., M.P. menyampaikan materi mengenai Persyaratan Produksi Benih dan Tata Cara Sertifikasi Benih Tanaman Pangan. Materi ini memberikan pemahaman kepada peserta mengenai proses produksi benih bersertifikat, mulai dari persyaratan penggunaan benih sumber, pemeriksaan pertanaman, pengawasan panen, pengujian laboratorium, hingga pelabelan benih sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan pemahaman tersebut, petani diharapkan mampu menghasilkan benih bermutu yang menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Pelatihan hari kedua dilanjutkan dengan materi Pemupukan Presisi yang disampaikan oleh Basrum, M.Si., serta materi Rekomendasi Pemupukan Target Produksi 10 Ton Menggunakan Layanan Konsultasi Padi (LKP) Versi 2.0 oleh Bhakti Priatmojo, M.Si. Kedua materi tersebut menekankan pentingnya penerapan rekomendasi pemupukan berbasis kebutuhan spesifik lokasi dengan memanfaatkan teknologi digital sehingga penggunaan pupuk menjadi lebih efisien, biaya produksi dapat ditekan, dan produktivitas tanaman dapat terus ditingkatkan. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi interaktif yang berlangsung pada setiap sesi pelatihan, di mana petani aktif menyampaikan pengalaman dan berbagai kendala yang dihadapi dalam penerapan teknologi di lapangan.
Pada hari terakhir kegiatan, 30 Juli 2026, BRMP Tanaman Pangan melaksanakan Survei SWOT terhadap 22 orang petani kooperator sebagai bagian dari pengumpulan data untuk mengevaluasi perkembangan penerapan teknologi pertanian modern oleh petani binaan. Penilaian dilakukan terhadap aspek kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) berdasarkan pengalaman petani, penyuluh, dan tenaga teknis selama penerapan teknologi di lapangan.
Hasil Survei SWOT tersebut akan digunakan sebagai bahan evaluasi dalam menyusun strategi pendampingan yang lebih efektif, memperkuat adopsi inovasi pertanian, serta mendukung peningkatan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan usahatani padi.
Pada hari terakhir kegiatan, Kepala BRMP Tanaman Pangan, Dr. Ir. Haris Syahbuddin, DEA, hadir sekaligus menutup rangkaian kegiatan. Dalam arahannya beliau menyampaikan bahwa keberhasilan penerapan teknologi pertanian modern di Kabupaten Soppeng telah menjadi salah satu contoh pengembangan modernisasi pertanian di Indonesia. Setelah teknologi tersebut ditampilkan pada Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVI Tahun 2026 di Gorontalo dan mendapat perhatian Presiden Republik Indonesia, Menteri Pertanian memberikan arahan agar penerapannya terus diperluas sebagai bagian dari upaya percepatan swasembada pangan nasional.
Kegiatan penutupan turut dihadiri oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Soppeng H. Asis, S. Hut., M. Si, Dandim 1423/Soppeng Letkol Inf. Eko Yuliyanto, serta Kolonel Tri Bharata, Wakil Koordinator Pelaksana Satuan Tugas (Satgas) Swasembada Pangan Mabes TNI. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung peningkatan kapasitas petani sebagai fondasi utama percepatan modernisasi pertanian.
Melalui penyelenggaraan pelatihan teknis ini, BRMP Tanaman Pangan berharap petani semakin mampu menguasai dan menerapkan teknologi pertanian modern secara mandiri. Dukungan pelatihan yang diikuti dengan evaluasi melalui Survei SWOT diharapkan dapat memperkuat proses pendampingan petani, mempercepat adopsi inovasi, meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani padi, serta mendorong terwujudnya pertanian Indonesia yang maju, modern, dan berkelanjutan.