Dari Klinik hingga Lahan, KMP ICARE Dorong Modernisasi Pertanian di NTB
Lombok Tengah, 17 September 2026 — Upaya mempercepat penerapan teknologi pertanian modern di Nusa Tenggara Barat terus dilakukan melalui Klinik Modernisasi Pertanian (KMP) Program ICARE. Salah satu rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Sistem Budidaya Jagung Modern Mendukung Korporasi Petani di Desa Bon Jeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Kamis (17/9).
Kegiatan diikuti sekitar 100 petani jagung bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Jonggat. Bimtek menjadi salah satu sarana untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan teknologi budidaya jagung yang lebih modern, efisien, dan sesuai dengan kondisi lapangan. Kegiatan diawali dengan sambutan dan arahan Kepala BRMP Tanaman Pangan Dr. Ir. Haris Syahbuddin, DEA, dan Kepala BRMP Nusa Tenggara Barat Hendro Cahyono, S.Pt., M.M., M.Si. Selanjutnya, kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah Zaenal Arifin, SST.
Dalam arahannya, Kepala BRMP Tanaman Pangan menyampaikan bahwa modernisasi pertanian menjadi bagian penting dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan pertanian. Penerapan teknologi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong penggunaan input dan sumber daya secara lebih efektif dan efisien. “Modernisasi pertanian tidak hanya berbicara mengenai penggunaan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi petani,” ujar Haris dalam arahannya. Kepala Pusat menambahkan, keberadaan KMP menjadi penting sebagai jembatan antara penghasil teknologi dengan petani dan pelaku usaha tani. KMP dirancang sebagai pusat layanan konsultasi, edukasi, teknologi dan pendampingan untuk mendukung petani dalam mengadopsi inovasi pertanian modern.
Perkuat Pengetahuan Budidaya Jagung
Dalam Bimtek tersebut disampaikan dua materi utama. Materi pertama “Sistem Budidaya Jagung Modern Mendukung Korporasi Petani” disampaikan oleh Fauziah Koes, M.Si. dari BRMP Serealia. Materi tersebut memberikan pemahaman mengenai penerapan sistem budidaya jagung modern yang dapat mendukung peningkatan produktivitas dan pengembangan korporasi petani. Materi kedua berupa praktik penentuan status hara dan pemupukan jagung menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) dan Bagan Warna Daun (BWD) yang disampaikan oleh Fitria Zulhaedar, M.Sc. Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam melakukan pengamatan kondisi hara dan menentukan kebutuhan pemupukan tanaman secara lebih terukur. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Para petani dan PPL berkesempatan menyampaikan berbagai pertanyaan dan permasalahan yang mereka hadapi dalam budidaya jagung. Interaksi tersebut menjadi bagian penting untuk menghubungkan materi teknologi dengan kondisi nyata di lapangan.
Tidak Berhenti di Ruang Bimtek
Pelaksanaan KMP di Jonggat tidak berhenti pada kegiatan Bimtek. Rangkaian kegiatan juga mencakup pendampingan lapang, konsultasi melalui Klinik Modernisasi Pertanian, serta demplot budidaya jagung dengan populasi tinggi. Melalui demplot, petani dapat melihat secara langsung penerapan teknologi budidaya jagung modern pada kondisi lapangan. Salah satu pendekatan yang diperagakan adalah peningkatan populasi tanaman melalui pengaturan jarak tanam yang lebih rapat, dengan dukungan pemupukan dan pemeliharaan yang lebih intensif dan terukur. “Demplot ini diharapkan menjadi sarana bagi petani untuk melihat, mempelajari dan mengevaluasi secara langsung penerapan teknologi budidaya jagung modern,” demikian disampaikan dalam arahan Kepala BRMP Tanaman Pangan.
Pendekatan budidaya jagung populasi tinggi menjadi salah satu bagian dari upaya mengoptimalkan jumlah tanaman pada satuan luas dengan tetap memperhatikan ketersediaan unsur hara dan pengelolaan tanaman. Konsep tersebut sejalan dengan semangat modernisasi pertanian untuk mengoptimalkan populasi tanaman dan mengelola input secara lebih tepat.
Dari Klinik hingga Lahan
KMP dirancang bukan hanya sebagai tempat memperoleh informasi, tetapi juga sebagai ruang interaksi dan pendampingan. Petani dapat berkonsultasi mengenai permasalahan usaha tani, memperoleh informasi teknologi, mengikuti bimbingan teknis, serta melihat penerapan inovasi melalui demplot. Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan BRMP Tanaman Pangan, BRMP Nusa Tenggara Barat, penyuluh dan petani dalam satu proses pembelajaran dan pendampingan. Melalui pendekatan tersebut, teknologi diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dapat diterapkan dan dievaluasi bersama di lapangan.
Kegiatan KMP Program ICARE di Lombok Tengah menjadi bagian dari upaya mempercepat adopsi teknologi modern sekaligus memperkuat kapasitas petani. Dengan sinergi antara lembaga penghasil teknologi, pemerintah daerah, penyuluh dan petani, modernisasi pertanian diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani di Nusa Tenggara Barat. Dari klinik hingga lahan, KMP membawa teknologi lebih dekat kepada petani—dari pengetahuan menjadi praktik, dari inovasi menjadi penerapan.